
loading...
(Baca Juga: Bagi Dividen Rp103 Miliar, ADHI Rombak Direksi kecuali Dirut)
Sehingga, perusahaan membidik peluang pembersihan limbah tersebut. "Kan terkontaminasi minyak, jadi harus dibersihkan, itu pasar besar dan baru. Berakhirnya konsesi migas Chevron berakhir 2018, kemudian Blok Mahakam berakhir 2017 dan ada lagi pada 2022 dan 2023," ujar Direktur Operasi I ADHI Budi Saddewa Soediro di Jakarta, Jumat (13/4/2018).
Sambung dia menjelaskan, potensi bisnis ini terdapat di 800 area dengan luas hingga 170 kilo meter (km) persegi. Volume limbahnya sendiri sebanyak 8 juta meter kubik senilai Rp176 triliun.
"Potensi besar hitung luasan yang tercemar maka terdapat 800 area seluas 170 km persegi, volume hampir 8 juta meter kubik. Potensi Rp176 triliun dan yang potensi jatuh tempo Rp8,26 triliun yang bisa dikerjakan," papar Budi.
Sementara, kata Budi, penggarapan bisnis baru ini sudah disetujui oleh pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar hari ini. "Ini harapan kami bisa masuk ke proyek ini. Sudah disetujui dalam RUPS tadi, baru izinnya, ditarget tahun ini sudah ada (kerjakan) proyek limbah di semester II," pungkasnya.
(akr)
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Adhi Karya Incar Bisnis Limbah Migas Rp8,26 Triliun"
Post a Comment