
loading...
Bahkan Ia menyakini dua raksasa ekonomi yang baru saja meneken kesepakatan perdagangan, tidak akan memperlihatkan resesi dalam satu hingga dua tahun ke depan. AS sendiri tercatat sebagai negara besar menyumbang sekitar 24-25% terhadap ekonomi dunia. Sedangkan China menyumbang sekitar 15-16% terhadap ekonomi dunia.
"Seluruh data-data makro, mikro, maupun pasar tidak memperlihatkan resesi dalam waktu dekat ini. Dari IMF maupun World Bank juga tidak melihat resesi pada tahun-tahun ke depan ini," ujar Raden Pardede di Jakarta, Jumat (31/1).
Baca Juga:
Lebih lanjut Ia menerangkan, beberapa negara lain termasuk India dan China memang mengalami penurunan pertumbuhan. Dimana India mengalami penurunan pertumbuhan dari sekitar 8% menjadi 4,5%.
Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif di angka 5%, tidak turun secara signifikan. "Indonesia itu lebih jauh lagi dari resesi. Relatif di 5%, tidak turun secara signifikan. Turunnya sangat perlahan sekali hanga nol koma nol sekian," jelasnya.
Hal senada disampaikan oleh Director of Chief Economist & Head of Research PT Samuel Aset Manajement Lana Soelistianingsih yang mengatakan, ekonomi AS tidak mengalami resesi namun melambat. Sinyal resesi tidak terlihat dari perbedaan obligasi pemerintah AS 10 tahun dan 2 tahun yang saat ini positif.
"Resesi di dunia, khususnya di AS sangat rendah. Tanda-tanda ekonomi AS tidak menunjukkan resesi. The Fed pun bisa menahan tidak menurunkan suku bunga," tuturnya.
(akr)
Bagikan Berita Ini
ReplyDeletemenang berapapun di bayar
ayo segera bergabung bersama kami di bandar365*com
WA : +85587781483