Search

Memacu Pertumbuhan Ekonomi dengan Memanfaatkan Gas Bumi

loading...

SIANG yang terik mendadak berganti hujan deras disertai petir yang menggelegar dan angin yang kencang. Sejumlah kendaraan memperlambat lajunya di sepanjang ruas jalan Jenderal Sudirman hingga sebagian Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (13/12/2018) lalu. Seperti biasanya, saat hujan turun, kemacetan di jalan utama ibukota ini semakin parah. Banyak pengemudi kendaraan yang tak sabar untuk bisa lepas dari jerat kemacetan. Bunyi klakson pun terdengar nyaring bersahutan.

Tak hanya membuat banyak pengemudi mobil pribadi dan angkutan umum stres, kemacetan itu tentu membuat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) kendaraan menjadi boros. Kerugian yang ditimbulkan dari kemacetan, menurut catatan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mencapai Rp67,5 triliun per tahun. Itu hanya di Jakarta, jika ditambah dengan kawasan Bodetabek, bisa mencapai Rp100 triliun.

Angka lebih mencengangkan disampaikan Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ). Kerugian akibat kemacetan lalu lintas di Jabodetabek menembus Rp185 triliun. Kerugian yang diderita tak hanya disumbangkan dari konsumsi BBM kendaraan bermotor yang boros, namun juga mencakup waktu, kerusakan mesin, stres dan polusi udara serta penyakit yang ditimbulkan.

"Beruntung saya menggunakan unit berbahan bakar gas, jadi tetap hemat walaupun jalan macet. Lagi pula, gas tidak membuat polusi udara. Di pool saya, Bekasi, ada 80-an unit yang menggunakan gas," ujar Dori Diar (55), pengemudi taksi Blue Bird bercerita kepada SINDOnews, Kamis (13/12/2018).

Kemacetan berarti petaka bagi pengemudi taksi. Bagaimana tidak, kesempatan untuk mendapatkan banyak trip semakin menipis, karena waktu tempuh menjadi lebih lama. "Apalagi kalau menggunakan BBM, bisa tidak dapat apa-apa, habis untuk beli premium dan setoran harian ke perusahaan," imbuhnya.

Dori bercerita, dalam sehari dirinya melakukan pengisian bahan bakar gas (BBG) di Stasiun Pengisian BBG (SPBG) milik PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebanyak dua kali. Setiap mengisi, Dori hanya merogoh kocek Rp40.000, sehingga total uang yang dikeluarkan Rp80.000.

"Hanya Rp80.000 saya bisa menempuh jarak 300 kilometer," ungkapnya. Dalam sehari, setelah dipotong setoran ke perusahaan, Dori bisa membawa pulang Rp200.000 hingga Rp250.000. "Kalau unit yang menggunakan BBM tidak bisa sebesar itu," sambungnya.

Pria asal Riau yang tinggal di Bogor itu mengungkapkan, sudah lima tahun bekerja di perusahaan taksi terbesar di Indonesia itu. Dari hasil jerih payahnya sebagai sopir taksi, Dori mampu menghidupi keluarganya. "Anak saya 10, delapan perempuan, dua laki-laki. Yang sudah lulus kuliah ada dua, tapi masih ada yang sekolah TK. Saya bisa menghidupi mereka dari pekerjaan ini," ungkapnya.

Dori pun mengaku tidak risau harus bersaing dengan transportasi berbasis daring. Alasannya, dengan menggunakan gas, mobilnya lebih efisien dibandingkan dengan transportasi berbasis daring yang masih menggunakan BBM. "Saya tidak khawatir bersaing, karena mereka menggunakan BBM. Gas harganya jauh lebih murah dibandingkan premium, sementara takaran per liternya sama, jelas saya lebih untung," ujarnya dengan tawa lebar. Di Jakarta, harga BBG dipatok Rp3.100 per liter setara premium (lsp). Sedangkan harga premium ditetapkan sebesar Rp6.550 per liter.

Tak hanya Dori, keuntungan menggunakan BBG juga dirasakan Kusno (62), pengemudi bajaj yang biasa menunggu penumpang di depan restoran Raja Kuring, Penjaringan, Jakarta Utara. Kusno mengaku terselamatkan dengan adanya bajaj BBG di tengah persaingan ketat dengan transportasi berbasis daring di ibukota.

"Andai saja masih menggunakan bajaj model lama yang menggunakan minyak (BBM) sudah pasti saya hanya dapat capek saja. Kalau BBG, saya masih bisa bawa pulang Rp75.000 sehari," tutur bapak dari enam orang anak ini.

Kusno pun bernostalgia dengan masa kejayaan bajaj di ibukota sebelum adanya transportasi berbasis daring. Saat itu, pria asal Tegal, Jawa Tengah ini bisa membawa pulang uang Rp200.000 hingga Rp250.000 untuk keluarganya di rumah.

Saat booming transportasi berbasis daring, Kusno mulai kelimpungan. Penumpang menurun drastis, tak jarang Kusno harus hilir mudik ke daerah-daerah tertentu yang masih boleh dilintasi bajaj untuk mencari penumpang. Kusno juga mengaku harus kucing-kucingan, bahkan di kejar petugas Dinas Perhubungan (Dishub) saat menanti datangnya penumpang di sekitar gedung pemerintahan.

Beruntung, pada 2014, Kusno sudah mendapatkan unit bajaj BBG. Sehingga, meskipun harus bersaing ketat, namun dia masih bisa bertahan. "Sekarang penumpang kebanyakan jarak pendek. Kalau hujan, penumpang lumayan. Tapi kan tidak setiap hari hujan," kata pria yang mengaku sudah menjadi pengemudi bajaj sejak 1978 itu.

Menurut Ketua Umum Komunitas Bajaj Gas (Kobagas), Agus Supriyono, saat ini, sekitar 13.000 bajaj di Jakarta sudah menggunakan BBG. Dari jumlah itu, sebanyak 1.000 pengemudi bergabung dengan Kobagas. "Para pengemudi sangat diperhatikan oleh PGN sehingga kesejahteraan mereka meningkat. Bahkan, PGN memfasilitasi pembentukan koperasi untuk berjualan sembako dan lainnya untuk menopang perekonomian keluarga pengemudi," tutur Agus.

Let's block ads! (Why?)

Baca Lagi dong https://ekbis.sindonews.com/read/1363114/34/memacu-pertumbuhan-ekonomi-dengan-memanfaatkan-gas-bumi-1544884891

Bagikan Berita Ini

Related Posts :

0 Response to "Memacu Pertumbuhan Ekonomi dengan Memanfaatkan Gas Bumi"

Post a Comment

Powered by Blogger.