
loading...
Analis Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji mengatakan, perhelatan lima tahunan tersebut bisa menjadi sentimen positif terhadap pasar saham di Tanah Air. Namun yang perlu diperhatikan, pemerintah harus mampu menjaga stabilitas politik dan juga keamanan di dalam negeri.
“Selama pemerintah mampu menjaga stabilitas politik dan keamanan dalam negeri, maka kelancaran proses pembangunan nasional dapat tercipta,” kata Nafan.
Menurutnya, terdapat beberapa sektor saham yang layak diperhatikan di tahun politik ini. Dengan adanya pesta demokrasi tersebut, daya beli konsumen akan meningkat, maka saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), menarik untuk dicermati.
Sementara itu, saham sektor konstruksi, seperti PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON), dan PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), juga bisa dicermati mengingat realisasi janji pemerintah dalam pembangunan infrastruktur.
Sedangkan sektor telekomunikasi, seperti PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), akan menarik lantaran pemilu legislatif dan eksekutif siap mendorong kenaikan trafik internet karena media sosial akan digunakan secara masif untuk kampanye politik.
Untuk saham sektor perbankan, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Per sero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), pun menarik dicermati.
Begitu pula saham sektor pertambangan serta agrikultur layak dilirik seiring tren kenaikan harga komoditas dunia. Saham-saham sektor ini yang menarik dicermati, antara lain PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Delta Dunia Makmur (DOID).
Senior Analyst CSA Research Institute, Reza Priyambada menambahkan, setelah digelarnya pemilu pada 17 April 2019 mendatang, pelaku pasar akan menanggapinya secara positif. Pasalnya, hal itu merupakan masa berakhirnya ketidakpastian politik di dalam negeri.
Reza menilai, IHSG cenderung bergerak meningkat pada periode awal tahun setelah dirilis laporan keuangan akhir tahun sebelumnya dan kuartal pertama. Pada umumnya, target akhir tahun mayoritas analis sudah tercapai di awal tahun dan sesudahnya IHSG justru bergerak terbatas.
Menurutnya, pelaku pasar sudah mulai mengamati kecenderungan ini sehingga pada umumnya IHSG akan lebih aktif di awal tahun depan, khususnya setelah pemilu berakhir.
Namun setelah itu, IHSG akan terkoreksi lagi bila gejolak eksternal tidak kunjung mereda. “Kalau China maupun Amerika tidak berubah sikap, kondisi seperti ini diperkirakan akan berlanjut. Artinya, siklus IHSG hanya kuat pada semester awal, lalu khawatir lagi setelahnya,” katanya.
Dirinya memperkirakan IHSG akan cenderung bergerak konsolidatif di level tidak jauh berbeda dibandingkan dengan posisi penutupan akhir tahun ini.
Menurutnya, hingga akhir tahun ini IHSG diperkirakan tetap bergerak di rentang 5.750-5.950, karena selama ini lebih sering mendekati batas bawah.
Tahun depan, pasar akan dibayangi sentimen global baru yang mungkin ditimbulkan oleh Presiden Trump dan kelanjutan kebijakan normalisasi moneter The Fed. Artinya, rupiah masih akan tetap dalam bayang-bayang volatilitas dan arus modal keluar masih berpotensi berlanjut.
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Menelisik Potensi Pasar Saham di Tahun Pesta Demokrasi"
Post a Comment